Rabu, 14 Mei 2014

TULISAN PERTAMA


PAHLAWAN YANG BUKAN VETERAN

Anak kecil itu memanggilku mbah Nan.
Dua puluh lima tahun yang lalu, dia sering datang ke gubug kediamanku. Tapi tak pernah aku bisa melihat raut keceriaan di senyum dan tawanya. Aku hanya bisa meraba garis halus raut mukanya dengan tangan gemetarku. Ya… sejarah asap-asap mesiu berhasil membutakan pandanganku (1944).
                Namaku tak pernah tercatat dalam sejarah. Bahkan negeri ini tak pernah ingat bagaimana keringat dan darah kami membanjiri  ibu pertiwi. Hanya anak ini yang selalu bertanya tentang pengorbanan, tentang perjuangan dan kepahlawanan kami. Walaupun aku tak bisa melihat sorot matanya, aku tetap bisa merasakan semangatnya, membara meluap mewakili jiwa-jiwa kami.
                Saat itu proklamasi belum dikumandangkan, merah putih hanya berkibar di dada kami, belum di tiang-tiang penjuru negeri. Aku dan pemuda-pemuda gagah yang lain menepuk dada, melangkah di garis depan. Agresi membuat bangsaku tertindas, tidak mungkin kami berdiam diri.
(lagi anak kecil ini mendengarkan ceritaku dengan seksama) tidak seperi mereka-mereka yangbegitu mudahnya  mengaburkan ingatan tentang pengorbanan kami.
                Aku lanjutkan..... Malam itu , beberapa puluh  tahun yang lalu. Perlawanan kami dua hari satu malam begitu hebatnya. Walaupun kami hanya berbekal senjata rampasan dan amunisi yang terbatas, keberanian kami membuahkan hasil besar dengan kebanggaan yang luar biasa. Memang semua itu tidaklah murah, enam saudara kami harus gugur lebih dahulu. Lalu pun yang terjadi, serpihan geranat nanas membuatku tak sanggup lagi memandang dunia. Tak mampu lagi aku berjuang.
                Teruskan semangat kami, nak (pintaku dalam hati). Dari pikiran-pikiranmu, jiwa-jiwa kami akan terus hidup. Perjuangan mu mungkin tidak dengan mengangkat senjata seperti kami. Cukup dengan cintai bangsa ini saja. Kelak saat kau tumbuh dewasa, junjung tinggi garuda merah putih disetiap pengabdianmu.
                Sambil menghirup asap biru linting lusuh ku genggam tangan kecil polos itu. Mungkin dia tersenyum mungkin dia dalam pikiran heran, mataku hanya menerawang tak bisa melihatnya. Bangsa ini tak pernah mengenalku, tetapi anak ini begitu bangga dengan pengorbanan kami.
                Hidupkan harapan kami nak.. kami tak ingin segala derita dan lepasnya jiwa-jiwa patriot terbuang sia-sia. Biar sudah sisa hidup kami tanpa tanda tanpa prasasti. Tak pernah kami mengharapkan itu. Perjuangan, pengorbanan waktu itu tanpa harapkan imbalan. Hanya panggilan hati kami demi tegaknya kedaulatan.
                                                                                                                                               
(Tempursari, 25 tahun yang lalu)

*diceritakan kembali oleh : si anak kecil