PAHLAWAN YANG BUKAN
VETERAN
Anak kecil itu memanggilku mbah Nan.
Dua puluh lima tahun yang lalu, dia sering datang ke gubug kediamanku.
Tapi tak pernah aku bisa melihat raut keceriaan di senyum dan tawanya. Aku
hanya bisa meraba garis halus raut mukanya dengan tangan gemetarku. Ya… sejarah
asap-asap mesiu berhasil membutakan pandanganku (1944).
Namaku tak pernah tercatat dalam
sejarah. Bahkan negeri ini tak pernah ingat bagaimana keringat dan darah kami
membanjiri ibu pertiwi. Hanya anak ini
yang selalu bertanya tentang pengorbanan, tentang perjuangan dan kepahlawanan
kami. Walaupun aku tak bisa melihat sorot matanya, aku tetap bisa merasakan
semangatnya, membara meluap mewakili jiwa-jiwa kami.
Saat itu proklamasi belum
dikumandangkan, merah putih hanya berkibar di dada kami, belum di tiang-tiang
penjuru negeri. Aku dan pemuda-pemuda gagah yang lain menepuk dada, melangkah
di garis depan. Agresi membuat bangsaku tertindas, tidak mungkin kami berdiam
diri.
(lagi anak kecil
ini mendengarkan ceritaku dengan seksama) tidak seperi mereka-mereka yangbegitu
mudahnya mengaburkan ingatan tentang
pengorbanan kami.
Aku lanjutkan..... Malam itu ,
beberapa puluh tahun yang lalu.
Perlawanan kami dua hari satu malam begitu hebatnya. Walaupun kami hanya
berbekal senjata rampasan dan amunisi yang terbatas, keberanian kami membuahkan
hasil besar dengan kebanggaan yang luar biasa. Memang semua itu tidaklah murah,
enam saudara kami harus gugur lebih dahulu. Lalu pun yang terjadi, serpihan
geranat nanas membuatku tak sanggup lagi memandang dunia. Tak mampu lagi aku
berjuang.
Teruskan semangat kami, nak
(pintaku dalam hati). Dari pikiran-pikiranmu, jiwa-jiwa kami akan terus hidup.
Perjuangan mu mungkin tidak dengan mengangkat senjata seperti kami. Cukup
dengan cintai bangsa ini saja. Kelak saat kau tumbuh dewasa, junjung tinggi
garuda merah putih disetiap pengabdianmu.
Sambil menghirup asap biru
linting lusuh ku genggam tangan kecil polos itu. Mungkin dia tersenyum mungkin
dia dalam pikiran heran, mataku hanya menerawang tak bisa melihatnya. Bangsa
ini tak pernah mengenalku, tetapi anak ini begitu bangga dengan pengorbanan
kami.
Hidupkan harapan kami nak.. kami
tak ingin segala derita dan lepasnya jiwa-jiwa patriot terbuang sia-sia. Biar
sudah sisa hidup kami tanpa tanda tanpa prasasti. Tak pernah kami mengharapkan
itu. Perjuangan, pengorbanan waktu itu tanpa harapkan imbalan. Hanya panggilan
hati kami demi tegaknya kedaulatan.
(Tempursari,
25 tahun yang lalu)
*diceritakan kembali oleh : si anak kecil